Tips Menjadi Food Instagrammer

Suka foto-foto makanan atau minuman? Suka foto-foto tempat makanan baru yang ngehheeiitttzzzz? Suka ngeshare info tempat makan baru ke temen-temen kamu di Instagram? Mungkin jadi food Instagrammer bisa jadi hobi baru kamu.

Di postingan kali ini gue mau bagi-bagi tips buat food Instagrammer yang baru merintis karir. Ini menurut gue pribadi yah..

Later on reviewing food will be like a basic daily activity

Semoga (masih) bermanfaat.
1.Bikin ciri khas profil tersendiri.
Kalau buat gue pribadi, nama account yang eye catchy memang lebih mudah diingat. Tapi pada kenyataannya, banyak food blogger/ Instagrammer yang nama accountnya biasa saja tapi tetap sukses melejit. 🙂

Ciri khas disini lebih ke foto-foto yang dipasang. Akan lebih menarik bila ada temanya.
Entah mau pasang foto yang terang semua.. Atau mau pasang foto yang gelap-gelap backgroundnya. Atau mau pasang foto yang isinya di-styling semua dengan sempurna. Atau mau pakai filter warna tertentu. Bebas. Yang penting sih, sebisa mungkin keliatan tema atau ciri khasnya. Jadi kalau follower liat, udah langsung tau, ini fotonya siapa ya?

2. Foto makanan sebaiknya siang-siang.
Seperti kata Ko Jiewa, food blogger yang terkenal itu,”Shoot your lunch, eat your dinner.”

Gak peduli mau foto pakai gadget apapun, foto dengan cahaya matahari asli menghasilkan foto yang terbaik.

Jam paling bagus buat foto-foto menurut gue mulai jam 9 pagi – 1 siang.

3. Lebih baik foto pakai kamera.
Memang foto pakai HP kalau siang-siang tetap bagus hasilnya, tapi bila dilihat di layar yang lebih besar seperti monitor komputer, kadang tetap pecah, sekalipun foto pakai HP dengan kamera 13 MP.

Besarnya MP gak mempengaruhi kualitas foto. Gue udah sempet ngebahas ini di postingan sebelumnya.

Jadi kalau bisa, untuk hasil yang bagus, fotonya pakai kamera. Karena bukaan lensanya tetap lebih besar, sehingga detail foto lebih terlihat.

Kalau kamera digital, gak dapat dipungkiri, kamera harga Rp3.000.000 hasilnya lebih baik daripada yang harganya Rp1.000.000.

Kalau kamera mirrorless, banyak yang menyarankan Fujifilm atau Canon.

Untuk kamera DSLR, bisa milih Canon karena warnanya mendekati warna aslinya.

Kalau Sony, gue taunya A6000 aja yang hasilnya bagus buangeett.

4. Follow semua food blogger yang kamu tau di kotamu
Fungsinya bukan buat bikin notifikasi ke mereka kalau “ini looooo… ada food Instagrammer baru..”
Bukan.. tapi lebih untuk berinteraksi dengan mereka, memulai koneksi, dann.. ada satu lagi di point di bawah ini.

5. Rajin-rajin comment foto makanan atau minuman orang lain
Salah satunya termasuk food Instagrammer yang sudah kamu follow.

Gue bilang sih ini gak bermaksud caper atau SKSD. Tapi salah satu cara untuk kamu sebagai food Instagrammer baru dikenal orang.
Karena pemakaian hashtag sekarang sudah kurang ampuh karena Instagram algorythm ini salah satu penyebabnya.

Tapi ya jangan ngespam juga ya, semua foto dikomentarin 🙂

6. Walaupun kurang ampuh, tapi tetap pakai hashtag yang sesuai. Terus tag juga profilnya.
Jujur.. pemakaian hashtag sekarang udah jauh dari ampuh.. karena udah gak muncul di Explore page lagi. Semua dipengaruhi jumlah likes. Bahkan top photos pun dipengaruhi jumlah likes.

Tapi gue sarankan tetap pakai hashtag. Siapa tau ada yang iseng nyari hashtag atau liat foto di Tag pemilik account.

7. Rajin-rajin bikin Instagram Stories.
Sebisa mungkin tiap hari maksimal bikin 2 Instagram Stories, entah itu foto atau video. Karena Instagram Stories gak liat likes. Mereka tetap muncul sesuai timeline. Bedanya.. semakin banyak yang view, semakin besar kemungkinan muncul di Explore Page.

Tapi jangan kebanyakan bikinnya ya sampai timeline Instagram Storiesnya deretan ————– semua. Kasian yang liatnya kalau gak pakai wifi, bisa abis kuota.

8. Boleh juga ngeliput langsung dengan Live Instagram.
Dengan alasan yang sama seperti poin di atas, boleh juga live Instagram.

9. Bikin review yang bagus.
Jujur boleh.. kalau gak enak bilang gak enak. Tapi pakai bahasanya yang halus ya.. Cuma sejauh ini sih.. yang berani komentar seperti ini hanya segelintir food Instagrammer.

Sebagai food Instagrammer, pastinya menghargai restoran/endorse-an. Berusaha menulis sebaik mungkin. Kalau emang gak enak, mending gak usah dipost sekalian.

Karena pengaruhnya besar. Gue pernah diceritain bagaimana sebuah tempat makan bisa tiba-tiba berkurang drastis yang datang cuma gara-gara direview ada masalah di makanannya.

10. Bikin logo dan kartu nama.
Walaupun gak semua food Instagrammer punya logo, tapi logo itu buat gue sih penting, sebagai pengingat dan ciri khas. Bebas mau logonya bikin sendiri atau minta tolong orang lain yang bikin. Mungkin mau pakai warna-warna tertentu biar ada maknanya 🙂

Dan kalau bisa, bikin kartu nama juga. Ini berfungsi kalau lagi diundang terus ketemu ownernya. Kartu nama ini berfungsi sebagai pengingat juga dan kesannya lebih official.
Atau bisa juga kalau gak diundang, tapi datang ke restoran, terus siapa tau mau memperkenalkan diri, akan lebih baik bila sambil memberikan kartu nama. Terkesan lebih formal dan enggak main-main.

11. Tambahkan watermark di fotomu.
Ini penting. Karena selalu aja ada yang rese dengan mengambil foto kamu, terutama kalau bagus. Bebas watermarknya mau logo kamu, atau tulisan nama account Instagramnya, atau inisial nama aja. Bebas.

12. Rajin-rajin pasang foto di Instagram.
Walaupun sekarang foto-foto yang sering dilike follower yang muncul ke permukaan, tapi jangan menyerah. Tetap saja, ketika ngepos foto lebih sering, kemungkinan untuk muncul di timeline follower yang gak pernah ngelike itu lebih ada, daripada yang jarang ngepos.

Dan ngepos foto ini ada jam-jamnya. Gue gak tau udah ada perubahan atau belum. Tapi ngepos foto itu paling baik hari biasa antara jam 2 siang – 5 sore.
Hari Sabtu pagi masih oke. Hari Minggu agak kurang efektif.

Selain itu, foto makanan yang dipos juga diperhatikan jam-jamnya.
Mau ngepos foto bubur ayam endeus bingits mendingan di pagi hari. Foto dessert di siang atau sore hari. Foto martabak atau Indomie menjelang tengah malam 😀

13. Foto jangan sampai sama dengan food Instagrammer lain.
Kalau dulu awal-awal food Instagrammer baru muncul dan rame-rame datang ke sebuah gathering terus disajiin makanan dan foto-foto ternyata kebetulan ada foto yang anglenya mirip/sama gak apa-apa. Kalau ada yang nanya, tinggal bilang,”Kebetulan sama blogger A,B,C, diundang barengan. Jadi fotonya sama.”

Kalau sekarang, gak bisa begitu. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dikirain fotonya sama terus nyomot foto orang lain, mendingan dibedain deh.
Kalau misalnya lagi diundang ke gathering ramean, ambil foto dari angle yang berbeda sebanyak mungkin. Atau kalau boleh, ambil makanannya dan foto di sudut yang berbeda.
Terus sebelum pos, pastiin foto kamu belum ada yang ngepos dengan angle yang sama.

14. Mengajukan proposal bila tertarik untuk diundang.
“Aduh.. kesannya kok gak enak banget ya.. Minta gratisan gitu…”
Tapi ternyata hal ini tergolong wajar. Asalkan proposalnya yang formal yah, layaknya kalau mau mengajukan proposal event untuk mengajukan sponsor. Perkenalkan diri kamu siapa, profil Instagram kamu, apa yang bisa kamu berikan untuk penjual/ owner kalau mereka mengundang kamu.

15. Bertanggung jawab bila sudah diendorse/ diundang ke restoran.
Buat gue pribadi kalau diundang atau diendorse itu tanggung jawabnya besar. Bukan karena hasil fotonya harus lebih baik, tapi owner/ penjualnya kadang suka menentukan aturan sendiri. Misalnya harus ngepos hari apa, jam berapa, captionnya seperti apa. Jadinya buat gue tanggung jawab itu lebih besar ketimbang ngereview datang sendiri tanpa undangan.
Gak heran karenanya, ada beberapa food Instagrammer yang gak menerima undangan dari siapapun.

16. Bikin blog.
Bebas mau di WordPress atau Blogspot. Lebih bagus lagi juga kalau domainnya beli. Terlihat lebih formal dan resmi. Alasan bikin blog karena di Instagram gak bisa mencakup semua kata-kata. Terbatas. Foto-fotopun gak mungkin dipajang semua, walaupun bisa di-collage.

Banyak bener ya tipsnya.. Abis liat ini, yang tertarik jadi food Instagrammer, cepetan bikin accountnya ya 😉 Happy reviewing.

Enak – Gak Enaknya Jadi Food Instagrammer

Di postingan kali ini mau ngebahas tentang menjadi food Instagrammer ah… Food Instagrammer berbeda dengan food blogger karena ngereview makanannya di Instagram aja (walau ada juga yang ditambah ke blog). Jadi food Instagrammer itu gak selalu cupcake and rainbow… unless you are really really lucky.. then maybe yes.. 😀

Hmm.. mulai dari mana dulu ya? Baiklah.. kalau ngetiknya ngaclok-ngaclok, harap maklum ya. Namanya juga lagi cerita suka-suka. 🙂 Mari kita mulai ceritanya.

Beberapa tahun yang lalu, yang namanya food Instagrammer itu masih jarang di Indonesia, atau lebih tepatnya lagi.. di Bandung. Bisa dihitung dengan jari siapa saja food Instagrammer tersebut dan foto-foto makanannya juga masih variatif, karena masih keliling-keliling sendiri buat review makanan. Yang namanya diundang buat review itu masih jarang sekali terdengar. (malah awalnya gue gak tau :D)

Karena gue sendiri suka foto-foto makanan dan berbagi infonya, maka guepun mengikuti jejak mereka. Gue bikin Instagram khusus untuk review-review makanan. Review berjalan.. sampai suatu waktu gue ketemu temennya temen gue yang punya temen seorang food Instagrammer kondang di Bandung. Dari situ gue baru tau kalau yang namanya food Instagrammer itu bisa diundang dan dibayar buat foto.. Dari situ gue baru tau yang namanya food Instagrammer itu bisa dibayar.

Gak lama kemudian mulai pada bikin blog, entah itu di WordPress atau Blogspot. Jadi untuk review makanan yang dibayar bisa dipasang di blog, atau bisa juga keduanya (Instagram dan blog). Kabar ini berhembus dengan cukup cepat hingga sekarang food Instagrammer sudah menjamur.

When it comes to passion, reviewing food can be a happy thing

Teruss.. enaknya itu ajakah? Enggak.. Ini gue ceritain enaknya atau untungnya jadi food Instagrammer dulu ya.
1. Kalau passion kamu bener-bener di makanan dan suka mereview, jadi food Instagrammer itu menyenangkan.. karena kamu melakukan suatu hal yang kamu suka. Kamu datang ke tempat baru, jeprat-jepret makanan, review, dan membagikannya ke orang lain.

2. Diundang review gratis.
Iya, gratis. Siapa yang gak suka sih dikasih makan gratis?
Udah gratis, makanannya bisa lebih dari satu macam. Bahkan dikasih minuman juga dan bukan air putih atau teh tawar 🙂

Uang buat beli makanan/ minuman jadi bisa ditabung kan..

3. Bisa mencoba makanan baru yang gak kepikiran buat beli, kalau pas diundang.
Serunya kalau lagi diundang itu, bisa nyobain makanan yang aneh ataupun yang harganya mahal banget tapi jadi bisa nyoba 😀

Contohnya : seumur-umur mungkin gak pernah nyobain Escargot. Atau makan seafood yang harganya bisa setengah harga HP low end. Atau makan makanan hotel yang harganya bisa buat beli baju baru. Atau nyobain makanan unik lainnya.. mungkin belalang goreng? 🙂 Dengan menjadi food Instagrammer, kesempatan ini terbuka lebar.

Atau kalau diendorse makanan tertentu, bisa nyoba tanpa harus beli dulu 🙂

4. Dibayar (walau gak selalu).
Yup, salah satunya yang enak jadi food Instagrammer itu kalau penjualnya bersedia membayar. Kebayang dong.. udah dikasih makan gratis, dibayar pula. Asyik kan ya? 🙂

Gak selalu ada yang mau bayar.. tergantung.. ada beberapa faktor. Nanti dilanjutkan lagi di bawah.

5. Jadi terkenal.
Gak bisa dipungkiri, jadi food Instagrammer itu kalau sukses, bisa jadi terkenal. Dan enaknya kalau udah terkenal, banyak undangan dan endorse-an. Terus balik lagi, kalau udah dapat banyak kesempatan seperti itu, terus dibayar, kan asyik ya… 🙂

6. Banyak teman/ koneksi baru
Dengan menjadi food Instagrammer, bisa kenalan sama food Instagrammer lainnya. Bisa jadi teman baru/ koneksi baru. Pergaulan makin luas.

7. Skill bertambah
Gak cuma skill moto-moto aja yang bertambah karena rajin motoin makanan dan minuman, tapi juga communication skill. Kenapa? Karena kalau diundang misalnya, harus pinter-pinter ngomong sama ownernya, banyak-banyak cerita. Udah gitu jadi tau banyak tentang info makanan juga. Siapa tau bisa dipake buat entar masak di rumah 🙂

Yak.. sejauh ini baru yang enak-enaknya.. Mari ngambil cemilan dulu.. Seduh teh dulu.. Karena postingan blog ini masih panjang 😀

Each food Instagrammer has their own characteristics

Nah, kalau tadi udah ngomongin yang enak-enaknya, sekarang ngomongin yang gak enaknya.
Waktu dulu awal-awal food Instagrammer baru muncul, we really did it for fun. Datang rame-rame, foto-foto bareng, ngobrol bareng, makan bareng.

Tapi sayangnya, sekarang-sekarang gak se-fun dulu lagi. Kadang ada persaingan kecil muncul. Tentunya bukan persaingan yang menjatuhkan bagaimana ya… Atau paling tidak, itu yang sejauh gue tau.

Persaingannya kalau yang gue tangkap sederhana aja sih, kayak,”Wah.. dia baru review restoran A. Diundang apa beli sendiri ya?”
“Wah.. si B baru ngepos foto, gak sampai 1 menit likesnya langsung 1.000.” Atau “Wah… si B followernya naik 1.000 orang dari kemarin. Bisa cepet gitu.. Gimana caranya ya?” Pembicaraan seperti ini udah biasa terjadi kalau ada food gathering.

Buat sebagian orang, melihat hal itu mungkin hal yang biasa aja atau wajar. Tapi gue pribadi udah ngeliatnya sebagai persaingan kecil. Karena kalau enggak, buat apa repot-repot merhatiin beberapa kali jumlah likes nambah berapa, follower nambah berapa. We do it for fun, remember? 😉

Namun hal itu terlintas di kepala gue juga secara otomatis karena ngaruh ke hal lainnya.
Waktu pertama kali food Instagrammer muncul, penjual/ owner-owner restoran gak terlalu ngeliat jumlah follower atau likes ada berapa banyak.

Waktu awal-awal, umumnya cuma ada dua tipe :

1. Yang ngeliat hasil fotonya bagus.
2. Yang ngeliat captionnya oke means cara ngereviewnya bagus.

Jadi kalau diundang, yang dilihat antara kedua itu. Mengenai bayaran pun dilihatnya dari itu. Misalnya, owner mau membayar karena melihat fotonya bagus sehingga pasti menarik perhatian orang dan datang ke tempatnya.

Tapi, sekarang sudah berubah. Yang dilihat sekarang (setau gue) urutannya adalah :
1. jumlah follower dan likes.
2. banyak atau gak yang comment.
3. hasil foto.
4. bagaimana sang blogger/ Instagrammer bisa menulis review yang bagus. Caption sudah gak terlalu penting lagi. Dalam hal ini maksudnya… gak perlu nulis caption panjang lebar, masih bisa menarik perhatian orang-orang dengan foto yang bagus.

Jadi gak heran kalau sekarang banyak yang beli followers atau likes. Karena itulah yang mayoritas diliat para penjual atau owner. Pendapatnya, kalau follower banyak, pastilah yang ngeliat juga lebih banyak ketimbang yang followernya dikit. Apalagi kalau likesnya banyak juga… dan comment-commentnya. Jangankan mereka. Gue juga kalau mau pasang iklan di Instagram juga berpikiran hal yang sama kok 😀

Abis itu baru diliat dari kualitas foto. Gak heran, waktu awal-awal food Instagrammer baru muncul, masih banyak yang pake HP, baik itu HP Android ataupun iPhone. Dan para owner/penjual pun gak keberatan. Kalau sekarang sih udah berlomba-lomba pakai kamera. Kebanyakan kamera mirrorless atau DSLR. Gak dapat dipungkiri.. Hasil foto dari kamera memang beda, jauh lebih bagus ketimbang HP biasa (kecuali iPhone). Untuk hasil foto ini kepingin gue bahas juga di postingan blog selanjutnya 😀

Gak heran jadinya kalau menurut pandangan gue pribadi, owner/penjual sekarang lebih terlihat senang/ menghargai yang motonya pake kamera daripada HP. Mungkin ini cuma perasaan gue aja, tapi gak tau deh.. X))

Udah gitu… gak enaknya lagi, Instagram sekarang pake algorythm feed pula. Apa itu algorythm feed? Jadi Instagram menampilkan foto-foto yang dianggap disukai oleh penggunanya. Kalau penggunanya ngefollow sebuah account tapi misalnya gak pernah like foto-fotonya, gak peduli seberapa sering account tersebut ngepost foto-foto, maka foto-foto itu gak akan muncul di timeline followernya. (kalaupun sampai muncul, itu jarang banget.. atau bisa jadi karena kebetulan yang ngelike banyak).

Buat para food Instagrammer yang gak terkenal (banget), algorythm feed ini bisa bikin ketar-ketir. Jumlah likes berkurang drastis, kenaikan follower juga gak bertambah banyak. Kalau udah gini…dikhawatirkan keberadaan food Instagrammer itu kurang diketahui lagi. Buat naikin follower atau likes susah bener kayaknya.

Dari sini pula, mungkin jadi alasan beberapa food Instagrammer beli follower/likes. Tapi mungkin likes lebih banyak dipilih, karena semakin bertambah banyak likes, semakin besar kemungkinan muncul di timeline follower, maupun di explore page. Semakin sering muncul, semakin ada kemungkinan enggagement dengan follower yang berarti kemungkinan lagi untuk mengundang follower baru melihat profil food Instagrammer tersebut.

Yah.. begitulah enak-gak enaknya jadi food Instagrammer. 70-30 kalau gue bilang. 70% enak, 30% gak enak. Tapi karena banyak enaknya, sebagai kesimpulan, jadi food Instagrammer itu enak 🙂

The New Skywalk atau Teras Cihampelas

Katanya, besok tgl. 1 Februari 2017, Skywalk akan diresmikan pembukaannya.
Tapi ternyata hari ini tgl. 31 Januari 2017, Skywalk ini sudah bisa dijadikan tempat jalan-jalan pengunjung.
Skywalk ini kelihatannya ada nama lainnya, yaitu Teras Cihampelas. Tapi karena gue belum tau pastinya, jadi untuk sementara pakai nama Skywalk dulu aja ya..

Mumpung masih sepi, guepun ikut yang lain.. pengen tau ceritanya Skywalk itu kayak gimana sih… walaupun sebelumnya sempet liat di Majalah Glam, tapi tetep aja ya kalau ngeliat langsung itu feelnya beda 😀

Naik tangganya, awalnya agak watir… walau ada pegangan.. Kalau hujan, mungkinnnn akan agak licin. Menurut gue bakalan lebih baik kalau di pinggiran tangganya itu dikasih karet.. jadi kalau agak licin, masih ada penahannya. In my opinion ini juga… Tapi bagus kok..

Begitu sampai di atas, wahhh… jujur gue kagum… ternyata designnya bagus juga. Memakai ubin yang seperti di trotoar-trotoar kebanyakan bikin tampilannya terlihat bagus.

Masih sepi… enak buat foto-foto

Untuk tenant-tenantnya sederhana saja dan terlihat agak kecil. Tapi mungkin cukup untuk memindahkan semua PKL yang ada di bawah dan menaruh barang-barang mereka di atas sini. Tenantnya dibagi, ada yang kuliner, ada yang souvenir.

Tenantnya masih kosong

Ada juga semacam loket. Mungkin untuk bayar makanan nantinya.

Ada tempat kayak loket

Jalan-jalan di atas ini enak.. masih sepi kali ya.. masih teratur. Karena di atas juga, ga ada polusi asap kendaraan bermotor (kecuali polusi asap yang ngerokok). Enak deh pokoknya dipakai buat duduk-duduk dan jalan-jalan.

Enak buat duduk-duduk kalau agak sepi gini

Besok atau ke depannya kayak gimana, atau nanti kayak gimana rupanya kalau tenant-tenant udah diisi, gue gak tau. Tapi yang pasti, pada pandangan pertama ini, gue suka.

PS : yang di bawah.. pipa-pipa dsb tetap dijaga ya.. abis kadang liat ada yang naro sampah di situ…

PPS : Gue baru bikin vlog jalan-jalan di Skywalk yang udah rame dan udah ada penjualnya. Bisa dilihat di video di bawah ini 🙂

Tinggal di Tempat dengan Budaya Cepat Menikah dan Punya Anak

Jadi anak perempuan lahir di Indonesia itu kalau buat gue pribadi gak enak. Karena dari remaja sudah dididik supaya harus cepet-cepet nikah dan punya anak. Seolah-olah tujuan hidup perempuan di sini itu cuma nikah dan punya anak. Kalau sudah tercapai, barulah hidup seorang perempuan bisa dibilang sempurna dan sukses membahagiakan orang tua.

Kenapa gue bilang di Indonesia? Karena gak cuma gue sendiri yang ngalamin, tapi banyak juga orang lain yang mengalami. Di setiap kota atau daerah.

Gak tau deh kenapa begitu gencar harus nikah muda. Alasan yang diberikan tentu saja banyak, ditambah ditakut-takuti :

1. Kalau udah tua, nanti gak ada yang mau. Laki-laki sukanya yang muda-muda.

Keselnya, hal ini gak sepenuhnya salah. Tua zaman sekarang sudah dihitung semenjak perempuan menginjak umur 25/26 tahun ke atas. Mungkin begitu karena memang mulai umur segitu, kulit perempuan udah mulai gampang kendor/keriput, badan mulai gampang ndut, dan lain sebagainya.

Lalu… memang sayangnya banyak terbukti juga laki-laki selalu pengen perempuan yang lebih muda. Alasannya yah selain masih cantik, juga masih segar, aktif, terlihat lebih sehat, dan pernah ada yang ngasih tau gue… wangi perempuan muda beda dengan yang sudah berumur.

Kesel ga sih? Tapi ini nyata adanya.

2. Kalau nikah udah berumur, nanti susah punya anak.. kalaupun hamil, ngelahirinnya lebih sakit, lebih beresiko.

Keselnya lagi, hal ini gak sepenuhnya salah. Hamil dan memiliki anak di umur 30 tahun ke atas emang lebih beresiko.. tapi lebih beresiko lagi kalau udah umur 35 tahun ke atas.

3. Kalau gak cepet-cepet married, nanti orang tua keburu meninggal. Nanti yang ngurus siapa… Nanti siapa yang jadi pendamping pas nikah?

Nah, ini biasanya dijadikan “senjata” terakhir orang tua kalau anaknya sudah bisa menjelaskan panjang lebar mengenai no.1 dan 2 itu aman dan tidak perlu dikhawatirkan.

Tiga alasan ini adalah alasan yang paling sering dilontarkan supaya cepat menikah dan punya anak. 

Seolah-olah nikah itu live happily ever after. Ngerinya lagi.. kalau orang tuanya sendiri gak mencerminkan live happily ever after di kehidupan sehari-harinya, seperti berantem, ngomongin duit.. tapi ngarepin anaknya cepet-cepet married. Gimana bisa anaknya pengen cepet nikah dari remaja kalau ngeliat orang tuanya berantem tiap hari masalah rumah tangga?

Well.. mungkin ada sih yang mau cepet, tapi kemungkinan bukan karena siap.. tapi karena gak tahan di rumah. Berharap dengan nikah dan tinggal dengan orang baru, masalah selesai. Ya syukur-syukur kalau selesai jadi live happily ever after sih… kalau enggak pegimana ya?

Ya.. kalau beruntung dapet pasangan yang baik dan pengertian. Life will be better. Lha, kalau enggak? Emangnya enak cerai? 

Tapi dikarenakan sudah jadi budaya, banyak yang gak kepikiran ke sana.. duit gimana nanti.. mapan gimana nanti… kecocokan nanti timbul dengan sendirinya..

Gak cuma itu aja.. Makin ke sini gue makin ngerasain jomblo selalu jadi bulan-bulanan atau bully-bullyan. Bahkan kalaupun sukses berat misalnya tapi masih jomblo, tetap dibully deh.

Gak heran juga, pencapaian hidup ini bikin jadi ajang pamer di socmed. Socmed gue sekarang isinya foto-foto nikah dan bayi semua. 97%. Tentu saja gak ada salahnya dengan itu. Someday.. mungkin guepun melakukan hal yang sama. Tapi buat gue.. ya ini jadi semacam ajang pamer dan pembuktian kalau udah berhasil mencapai tujuan hidup yaitu menikah dan punya anak.

Belum lagi kalau saudara atau temen-temen orang tua udah punya cucu juga. Wahh.. bisa diomongin terus.. Dengan harapan jadi lebih cepet kepengen nikah dan punya anak. (terlepas dari alasan lain memang senang punya cucu).

Walaupun pernikahan terlihat menyenangkan seperti itu.. tapi kenapa banyak yang berantem-berantem ya? Jujur.. daripada liat yang happily ever after, lebih banyak liat yang miserable ever after. Mungkin sialnya gue idup di lingkungan yang kebetulan marriage lifenya pada berantakan. Tapi ya gimana ya? Married itu ga cuma sekedar happy-happy di Hari H dan having sex doang lho. 😐

Tapi… Ga cuma nikah cepet aja.. tapi harus cepet punya anak juga. Biar hidupnya sempurna.
Dikiranya punya anak itu enak kali ya.. padahal harus didiskusikan sama pasangan. Siap ga ngurus anak.. punya uang ga kalau ternyata lahirnya ga bisa normal? Punya uang buat beli popok dan susu bayi yang harganya luar biasa mahal? Punya uang gak buat membiayai pendidikan anak yang baik dan makanan yang enak, kehidupan yang baik? Ada waktu gak ngurus anak?

Bukan cuma sekedar lahir oe.. oe.. terus dipamer-pamerin di socmed aja. Tanggung jawabnya besar. Kalau sekarang masih sibuk ngumpulin uang, makan masih mikir, ngontrak rumah masih mikir, masa udah pengen punya anak aja?

Itulah concern gue.. Gue nulis blog ini sebagai uneg-uneg seorang perempyan yang udah bukan remaja lagi tapi disuruh cepat-cepat nikah dan punya anak dan belum melihat role model pernikahan yang bahagia seutuhnya sayangnya.

Gue mau nikah dan punya anak tentu saja. Tapi di kala gue udah siap dan gue yakin tinggal dengan pasangan gue, gue bisa oke. Klop.. kalau bahagia makin bahagia, kalau lagi debat bisa diselesaikan baik-baik. Kalau punya anak, bisa bikin anak happy, bukan jadi pesuruh dll. Pesuruh di sini ya karena gue sering liat anak bukannya dibebasin dan dibimbing jadi apa yang dia mau, tapi di”paksa” jadi apa yang orang tuanya inginkan. Orang tua mau anaknya jadi pebisnis, kalau anaknya pengen nyeni bisa dilarang. Gak jarang juga yang kalau orang tuanya kurang uang, akhirnya anaknya yang disuruh bantu kerja atau sampai putus sekolah..padahal harusnya masa kecil masih indah main-main dengan teman-temannya.

Sigh.. cuma bisa menghela nafas aja sih. Tinggal di sini, ya beginilah budayanya.. Terima nasib gitu ya… Sigh… 

Nonton film Cek Toko Sebelah

Akhirnya film Ernest Prakasa yang ditunggu-tunggu muncul juga di bioskop. Film Cek Toko Sebelah ini merupakan film kedua Ernest dengan genre drama komedi.

Bercerita tentang papinya Erwin (Ernest) dan Yohan (Dion) yang bernama Ko Afuq (Chew Kin Wah) punya toko kelontong di Jakarta dan bersaing dengan toko sebelahnya. Suatu saat, Ko Afuq sakit. Jadinya dia harus pensiun. Rencana Ko Afuq ini toko pengen diurus sama Erwin, padahal Erwin lagi sukses-suksesnya dan pengen kerja di Singapura. Hatinya gak ada di toko. Sedangkan Yohan lebih kepengen ngurus toko malah gak dikasih. Bete-betean pun terjadi.

Kurang lebih itulah inti drama cerita film Cek Toko Sebelah ini. Jujur, walaupun judulnya Cek Toko Sebelah, gak terlalu keliatan cerita persaingannya. Kecuali pas adegan banding-bandingin harga barang dan kompetisi berhadiah 10 juta rupiah. Padahal awalnya sebelum liat trailer film dkk, gue kirain ini film perseteruan antar pedagang dua toko XD

Anyway, terlepas dari inti ceritanya dan dramanya yang bisa bikin nangis sesegukan… (akting Chew Kin Wah pol abis bisa bikin terbawa suasana gini), film ini lebih banyak komedinya. Kocak banget ngeliat akting-akting para komika yang natural abis, baik komika lama hingga komika baru. Porsinya pas dan semuanya menggunakan kesempatan ini dengan baik. Buat penonton yang suka nonton Stand Up Comedy, setiap ada satu komika muncul, pasti langsung reflek ketawa.

Paling suka aktingnya Chew Kin Wah… oke.. gue udah nyebut berapa kali ya? Dari mulai dia seneng, sedih, marah… bener-bener mantab.

Kedua, bosnya Erwin di kantor yang diperankan Asri Pramawati. Aktingnya kocak banget. Apalagi pas nyanyiin theme song Keluarga Cemara dan bilang “katro”.

Ketiga, tentunya kehadiran para komika dan juga Kaesang, anak Presiden Pak Jokowi, yang gak diduga-duga. Kalau gak salah menurut pendapatku, Ernest memberi ruang kepada setiap pemain untuk be themselves. Makanya pada natural aktingnya.

Kalau aktingnya Ernest Prakasa sih udah gak usah dibahas lagi ya.. bagus dan natural juga.

Penulisan script film ini juara. Buat gue sih komedinya cerdas. Banyak yang unpredictable script komedinya. Jadinya mengundang tawa.

Yang pasti nonton film ini perasaan dibuat campur aduk. Ada yang ngereview bagus, ada juga yang ngereview kurang begitu bagus. Balik lagi ke masalah selera.

Kalau buat gue, film Cek Toko Sebelah ini bagus karena masalahnya relate dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari masalah keluarga, kejadian di toko. Sederhana tapi memang kejadian. Dan komedi akan terasa lebih lucu ketika itu kejadian tersebut relate dengan pribadi penontonnya dan masuk akal.

Hanya ada dua pertanyaan yang terlintas di kepala gue dan gak terjawab di film ini buat gue. Sebastian yang diperankan Nino Fernandez itu siapanya Ayu? Keluarga, teman dekat yang pernah nyaris jadi pacar? Mantan pacar? Tiba-tiba nongol nawarin buka toko terus udah.. that’s it. (maaf, spoiler).

Terus cowok yang diperankan Liant Lin ini sebenernya pembantu rumah tangga kah? Soalnya saat pegawai lain dikasih pesangon (maaf, spoiler), dia gak dikasih.

Kalau ada yang baca postingan blog ini dan bisa bantu jawab, mungkin bisa dijawab di bagian comment box.

Anyway, selesai film ini, penonton pada tepuk tangan. Bahkan setelah blooper pun pada tepuk tangan. Dan gue mendengar beberapa orang bilang”rame ya filmnya”. Terbukti film ini berhasil menghibur penonton.

Well done, Ernest Prakasa.

Hujan Angin Topan dan Lagi di Jalan

Hari ini ujan angin di Bandung benar-benar mengerikan. Udah kayak angin topan.

Tadi pas nyampe Jl. Merdeka tiba-tiba ujan badai… Ujannya deras dan anginnya kenceng luar biasa. Itu pohon-pohon goyangannya udah kenceng banget.. Atap-atap seng dan batang-batang pohon yang gak kuat udah beterbangan. Di dalem angkot udah kayak naik arung jeram, kena basah semua, hasil air ujan yg kebawa angin gede.

Ohh.. ini belum seberapa 😏

Lanjut sampai sebelum depan pintu tengah BIP yg tengah, pagar-pagar dan tiang-tiang bangunan buat booth Fashion Craft yang ada depan BIP roboh semua. Bahkan sampai tembok penghubung pagarnya.

Abis itu.. Suara-suara teriakan panik kedengeran di mana-mana sambil lari nyelamatin diri. Serem. 😦

Gue? Jelas takut.. daerah yang dilewati banyak pohon gede dan tiang.. Pas bangunan depan BIP roboh itu pas depan gue. Itu satu angkot yang gue naikkin udah ngucap doa semua tanpa henti.

Baru kali ini ngalamin macam angin topan live on the spot. Takut ampe gemeteran 😨😱

Berikutnya msh deg-degan, akhirnya lewat Balai Kota. Di situ… banyak sekali batang pohon gede (batangnya) bertebaran di mana-mana…

Untung pas nyampe situ, udah gak ujan badai. Serem…
Sampai kantor polisi batang-batang pohon gede msh bertebaran.

Sisanya ampe Jl. Wastukencana, mobil gak gerak sama sekali. Menurut kabar supir angkot lawan arah, banjirnya tinggi banget.. makanya macet total gak gerak..

Dan karena gue udah kebelet pipis, gue turun jalan ke BEC.. Setelah itu tak lama kemudian, hujan mereda. Kecil-gede-kecil-gede, sampai malam.. tapi tak separah siang tadi.

Gara-gara kejadian ini, gue trauma sama yang namanya ujan 😐

Sekian uneg-unegnya. Hujan, please be nice.

Nonton Film Bridget Jones’ Baby

Sebagai penyuka film Bridget Jones’ Diary dan Bridget Jones : The Edge of Reason, gue gak tau kalau bakal ada film ketiganya yang berjudul Bridget Jones’ Baby ini. Gak tau deh pas lagi ngobrolin apa, terus baru tau kalau ada film barunya.

Film pertamanya sendiri dirilis tahun 2001, sekitar 15 tahun yang lalu. Sedangkan film keduanya dirilis tahun 2004. Wajar kalau pas film ketiganya ini muncul, gue udah lupa sama sekali kisah cinta Bridget ini. Apalagi stasiun TV-TV lokal di sini kayaknya gak pernah nayangin film romantis komedi yang satu ini. Makin gak kebayang aja jadinya.

Bridget Jones' Baby movie poster

Bridget Jones’ Baby movie poster

Gue sempet watir, gimana kalau karena lupa terus gue gak bisa ngikutin jalan cerita filmnya yang baru? Atau bagaimana kalau gue masang ekspektasi yang sama karena film kesatu dan keduanya bagus. Akankah gue kecewa? Tapi yah.. namanya juga udah nonton 2 film sebelumnya… masa film lanjutannya gak nonton? Karenanya, begitu film Bridget Jones’ Baby ini rilis, gue langsung semangat nonton. Dan syukurlah, walaupun udah lupa cerita di film-film sebelumnya, masih tetap bisa ngikutin cerita di film ini.

—–spoiler start here—–

Film ini bercerita tentang Bridget Jones, yang udah 43 tahun masih single aja… Sedih gak sih? Ngerayain ulang tahun pun sendirian. 😦 Kalau itu belum cukup, dia datang ke pemakaman Daniel (cowok yang sebelumnya ada di kedua filmnya) dan mendapati pria aka mantan pacarnya, Mark, itu sudah punya istri.

Merasa sedih, temen baik yang melihatnya pun berusaha bikin dia supaya nyari cowok. Diajaklah ke festival musik. Ceritanya mau have fun gitu… siapa tau ketemu cowok.

Eh, pas lagi di event itu, Bridget terjatuh pas bawa koper, dan ditolonglah oleh seorang pria ganteng bernama Jack. Singkat cerita, Bridget had lust at first sight dan “begituan”lah mereka.

Terus besoknya.. udah deh Bridget pergi. Sekembalinya dari sana, beberapa hari kemudian, Bridget harus menghadiri acara jadi orang tua baptis. Di sini dia ketemu Mark lagi. Tergodalah mereka dan “begituan” karena katanya Mark udah cerai.

Merasa takut hubungan kayak dulu lagi, Bridget pun ninggalin Mark. Gak lama setelah itu, Bridget pun mendapati dirinya hamil. Binging dong siapa ayah dari bayi tersebut? Abisnya “begituan”nya berdekatan harinya. Dan dokter kandungan gak bisa ngecek kecuali lewat tes DNA. Tapi harus pakai jarum suntik gede. Bridget gak mau.

Akhirnya dia hamil tanpa tau siapa ayah dari bayinya. Jadinya double date sampai suatu saat ketahuan. Triple datelah mereka dan Bridget menceritakan hal yang sesungguhnya.

Alih-alih marah, keduanya pengertian. Mereka berusaha mau jadi ayah yang baik buat calon bayinya. Segala cara dilakukannya ampe ujung-ujungnya jadi bersaing.

Mark ninggalin Bridget dan Bridget sadar, dia selalu cinta Mark selama ini dan susah buat mencintai Jack walaupun udah baik banget.

Jack pun pergi dan Bridget sendirian lagi.. hingga suatu saat Mark sadar akan kesalahannya dan kembali ke Bridget pas air ketuban Bridget pecah. Alhasil dia cepet-cepet bawa ke rumah sakit. Dengan ditolong Jack.

Setelah nunggu lama, akhirnya bayinya lahir. Dari situ bisa tes DNA.

Nah ayah bayinya siapa? Mark atau Jack? Apakah mereka akan menikah? Tonton aja ya filmnya biar penasaran.

—–spoiler end here—–

Kalau gue nulis ceritanya begini sih gak ada lucu-lucunya. Mesti nonton filmnya karena banyak istilah-istilah, kata-kata, dan act out yang bikin ngakak sepanjang film. Mulai dari scene Ed Sheeran, Mark yang canggung, dll. Jago yang bikin scriptnya. Jago bikin penonton ngakak dan emosinya tetap diombang-ambing karena ada bagian yang mengharukannya juga.

Banyak soundtrack-soundtrack bagus di film ini (yang sekarang udah jarang terdengar di film-film action). Salah satunya adalah lagu Ellie Goulding yang berjudul Still Falling For You. Nyeesss banget deh liriknya sama isi filmnya sama. And she’s always good dalam mengisi soundtrack film-film yang ada romansanya seperti ini. Sebut saja Divergent, Fifty Shades of Grey, dan sekarang Bridget Jones’ Baby.

Apakah film Bridget Jones’ Baby ini layak ditonton? Jawabnya, iya… gak pake lama. Bahkan yang galau pun nonton film ini, galaunya bakalan hilang. Atau mungkin yang butuh spark-spark baru sama pasangannya juga bisa nonton ini. Yang hubungannya lancar-lancar juga boleh banget nonton ini. Abis nonton film ini, jadi berasa yes, there’s still love out there.

Sayang banget jam tayangnya dikit banget ini di bioskop-bioskop. Malah ada bioskop yang gak nayangin.. Semoga sampai minggu depan masih ditayangin. Kalau ada waktu, pengen nonton lagi. Bagus banget sih filmnya 🙂