Enak – Gak Enaknya Jadi Food Instagrammer

Di postingan kali ini mau ngebahas tentang menjadi food Instagrammer ah… Food Instagrammer berbeda dengan food blogger karena ngereview makanannya di Instagram aja (walau ada juga yang ditambah ke blog). Jadi food Instagrammer itu gak selalu cupcake and rainbow… unless you are really really lucky.. then maybe yes.. πŸ˜€

Hmm.. mulai dari mana dulu ya? Baiklah.. kalau ngetiknya ngaclok-ngaclok, harap maklum ya. Namanya juga lagi cerita suka-suka. πŸ™‚ Mari kita mulai ceritanya.

Beberapa tahun yang lalu, yang namanya food Instagrammer itu masih jarang di Indonesia, atau lebih tepatnya lagi.. di Bandung. Bisa dihitung dengan jari siapa saja food Instagrammer tersebut dan foto-foto makanannya juga masih variatif, karena masih keliling-keliling sendiri buat review makanan. Yang namanya diundang buat review itu masih jarang sekali terdengar. (malah awalnya gue gak tau :D)

Karena gue sendiri suka foto-foto makanan dan berbagi infonya, maka guepun mengikuti jejak mereka. Gue bikin Instagram khusus untuk review-review makanan. Review berjalan.. sampai suatu waktu gue ketemu temennya temen gue yang punya temen seorang food Instagrammer kondang di Bandung. Dari situ gue baru tau kalau yang namanya food Instagrammer itu bisa diundang dan dibayar buat foto.. Dari situ gue baru tau yang namanya food Instagrammer itu bisa dibayar.

Gak lama kemudian mulai pada bikin blog, entah itu di WordPress atau Blogspot. Jadi untuk review makanan yang dibayar bisa dipasang di blog, atau bisa juga keduanya (Instagram dan blog). Kabar ini berhembus dengan cukup cepat hingga sekarang food Instagrammer sudah menjamur.

When it comes to passion, reviewing food can be a happy thing

Teruss.. enaknya itu ajakah? Enggak.. Ini gue ceritain enaknya atau untungnya jadi food Instagrammer dulu ya.
1. Kalau passion kamu bener-bener di makanan dan suka mereview, jadi food Instagrammer itu menyenangkan.. karena kamu melakukan suatu hal yang kamu suka. Kamu datang ke tempat baru, jeprat-jepret makanan, review, dan membagikannya ke orang lain.

2. Diundang review gratis.
Iya, gratis. Siapa yang gak suka sih dikasih makan gratis?
Udah gratis, makanannya bisa lebih dari satu macam. Bahkan dikasih minuman juga dan bukan air putih atau teh tawar πŸ™‚

Uang buat beli makanan/ minuman jadi bisa ditabung kan..

3. Bisa mencoba makanan baru yang gak kepikiran buat beli, kalau pas diundang.
Serunya kalau lagi diundang itu, bisa nyobain makanan yang aneh ataupun yang harganya mahal banget tapi jadi bisa nyoba πŸ˜€

Contohnya : seumur-umur mungkin gak pernah nyobain Escargot. Atau makan seafood yang harganya bisa setengah harga HP low end. Atau makan makanan hotel yang harganya bisa buat beli baju baru. Atau nyobain makanan unik lainnya.. mungkin belalang goreng? πŸ™‚ Dengan menjadi food Instagrammer, kesempatan ini terbuka lebar.

Atau kalau diendorse makanan tertentu, bisa nyoba tanpa harus beli dulu πŸ™‚

4. Dibayar (walau gak selalu).
Yup, salah satunya yang enak jadi food Instagrammer itu kalau penjualnya bersedia membayar. Kebayang dong.. udah dikasih makan gratis, dibayar pula. Asyik kan ya? πŸ™‚

Gak selalu ada yang mau bayar.. tergantung.. ada beberapa faktor. Nanti dilanjutkan lagi di bawah.

5. Jadi terkenal.
Gak bisa dipungkiri, jadi food Instagrammer itu kalau sukses, bisa jadi terkenal. Dan enaknya kalau udah terkenal, banyak undangan dan endorse-an. Terus balik lagi, kalau udah dapat banyak kesempatan seperti itu, terus dibayar, kan asyik ya… πŸ™‚

6. Banyak teman/ koneksi baru
Dengan menjadi food Instagrammer, bisa kenalan sama food Instagrammer lainnya. Bisa jadi teman baru/ koneksi baru. Pergaulan makin luas.

7. Skill bertambah
Gak cuma skill moto-moto aja yang bertambah karena rajin motoin makanan dan minuman, tapi juga communication skill. Kenapa? Karena kalau diundang misalnya, harus pinter-pinter ngomong sama ownernya, banyak-banyak cerita. Udah gitu jadi tau banyak tentang info makanan juga. Siapa tau bisa dipake buat entar masak di rumah πŸ™‚

Yak.. sejauh ini baru yang enak-enaknya.. Mari ngambil cemilan dulu.. Seduh teh dulu.. Karena postingan blog ini masih panjang πŸ˜€

Each food Instagrammer has their own characteristics

Nah, kalau tadi udah ngomongin yang enak-enaknya, sekarang ngomongin yang gak enaknya.
Waktu dulu awal-awal food Instagrammer baru muncul, we really did it for fun. Datang rame-rame, foto-foto bareng, ngobrol bareng, makan bareng.

Tapi sayangnya, sekarang-sekarang gak se-fun dulu lagi. Kadang ada persaingan kecil muncul. Tentunya bukan persaingan yang menjatuhkan bagaimana ya… Atau paling tidak, itu yang sejauh gue tau.

Persaingannya kalau yang gue tangkap sederhana aja sih, kayak,”Wah.. dia baru review restoran A. Diundang apa beli sendiri ya?”
“Wah.. si B baru ngepos foto, gak sampai 1 menit likesnya langsung 1.000.” Atau “Wah… si B followernya naik 1.000 orang dari kemarin. Bisa cepet gitu.. Gimana caranya ya?” Pembicaraan seperti ini udah biasa terjadi kalau ada food gathering.

Buat sebagian orang, melihat hal itu mungkin hal yang biasa aja atau wajar. Tapi gue pribadi udah ngeliatnya sebagai persaingan kecil. Karena kalau enggak, buat apa repot-repot merhatiin beberapa kali jumlah likes nambah berapa, follower nambah berapa. We do it for fun, remember? πŸ˜‰

Namun hal itu terlintas di kepala gue juga secara otomatis karena ngaruh ke hal lainnya.
Waktu pertama kali food Instagrammer muncul, penjual/ owner-owner restoran gak terlalu ngeliat jumlah follower atau likes ada berapa banyak.

Waktu awal-awal, umumnya cuma ada dua tipe :

1. Yang ngeliat hasil fotonya bagus.
2. Yang ngeliat captionnya oke means cara ngereviewnya bagus.

Jadi kalau diundang, yang dilihat antara kedua itu. Mengenai bayaran pun dilihatnya dari itu. Misalnya, owner mau membayar karena melihat fotonya bagus sehingga pasti menarik perhatian orang dan datang ke tempatnya.

Tapi, sekarang sudah berubah. Yang dilihat sekarang (setau gue) urutannya adalah :
1. jumlah follower dan likes.
2. banyak atau gak yang comment.
3. hasil foto.
4. bagaimana sang blogger/ Instagrammer bisa menulis review yang bagus. Caption sudah gak terlalu penting lagi. Dalam hal ini maksudnya… gak perlu nulis caption panjang lebar, masih bisa menarik perhatian orang-orang dengan foto yang bagus.

Jadi gak heran kalau sekarang banyak yang beli followers atau likes. Karena itulah yang mayoritas diliat para penjual atau owner. Pendapatnya, kalau follower banyak, pastilah yang ngeliat juga lebih banyak ketimbang yang followernya dikit. Apalagi kalau likesnya banyak juga… dan comment-commentnya. Jangankan mereka. Gue juga kalau mau pasang iklan di Instagram juga berpikiran hal yang sama kok πŸ˜€

Abis itu baru diliat dari kualitas foto. Gak heran, waktu awal-awal food Instagrammer baru muncul, masih banyak yang pake HP, baik itu HP Android ataupun iPhone. Dan para owner/penjual pun gak keberatan. Kalau sekarang sih udah berlomba-lomba pakai kamera. Kebanyakan kamera mirrorless atau DSLR. Gak dapat dipungkiri.. Hasil foto dari kamera memang beda, jauh lebih bagus ketimbang HP biasa (kecuali iPhone). Untuk hasil foto ini kepingin gue bahas juga di postingan blog selanjutnya πŸ˜€

Gak heran jadinya kalau menurut pandangan gue pribadi, owner/penjual sekarang lebih terlihat senang/ menghargai yang motonya pake kamera daripada HP. Mungkin ini cuma perasaan gue aja, tapi gak tau deh.. X))

Udah gitu… gak enaknya lagi, Instagram sekarang pake algorythm feed pula. Apa itu algorythm feed? Jadi Instagram menampilkan foto-foto yang dianggap disukai oleh penggunanya. Kalau penggunanya ngefollow sebuah account tapi misalnya gak pernah like foto-fotonya, gak peduli seberapa sering account tersebut ngepost foto-foto, maka foto-foto itu gak akan muncul di timeline followernya. (kalaupun sampai muncul, itu jarang banget.. atau bisa jadi karena kebetulan yang ngelike banyak).

Buat para food Instagrammer yang gak terkenal (banget), algorythm feed ini bisa bikin ketar-ketir. Jumlah likes berkurang drastis, kenaikan follower juga gak bertambah banyak. Kalau udah gini…dikhawatirkan keberadaan food Instagrammer itu kurang diketahui lagi. Buat naikin follower atau likes susah bener kayaknya.

Dari sini pula, mungkin jadi alasan beberapa food Instagrammer beli follower/likes. Tapi mungkin likes lebih banyak dipilih, karena semakin bertambah banyak likes, semakin besar kemungkinan muncul di timeline follower, maupun di explore page. Semakin sering muncul, semakin ada kemungkinan enggagement dengan follower yang berarti kemungkinan lagi untuk mengundang follower baru melihat profil food Instagrammer tersebut.

Yah.. begitulah enak-gak enaknya jadi food Instagrammer. 70-30 kalau gue bilang. 70% enak, 30% gak enak. Tapi karena banyak enaknya, sebagai kesimpulan, jadi food Instagrammer itu enak πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s