Uneg-uneg Tempat Makan Sekarang

Lagi kepengen curhat soal tempat makan yang banyak baru muncul sekarang.
Dari segi tempat, yah gak perlu dibahas lah ya.. Rata-rata tempatnya kece
dengan mural bagus dan dekorasi yang menarik. Kalau kata banyak orang
sih,”Instagrammable tempatnya.” Tapi bagaimana dengan servis dan rasa
makanannya? Nah, ini dia yang mau gue curhatin.

Nyobain tempat makan baru sekarang itu kalau sekarang selalu bikin
deg-degan karena hampir selalu ketemunya cuma dua ini:
– Rasa enak tapi servis gak bagus atau kurang memuaskan.
– Servis ramah dan menyenangkan tapi rasa makanannya antara gak enak sampai
gak enak banget.

Yang pertama gue mau bahas yang dari segi rasa makanan dulu yah..
Gue gak tau apakah sebelum membuka sebuah tempat makanan, ownernya itu
sempat food tasting menu-menunya dulu apa enggak.
Abisnya pas makan itu jarang banget nemu yang enak yang bikin gue pengen
datang ke tempat itu lagi untuk kedua kalinya.

Kalau gak enak dikit ya gak apa-apalah, masih bisa dimakan. Kadang gak
enaknya itu gak enak banget.
Misalnya goreng ayam, tapi daging ayamnya masih warna merah muda. Kalau
kata temanku, itu artinya gorengnya gak matang dan bahaya kalau makan
daging ayam yang belum matang sepenuhnya. Waddduuhh..

Atau contoh lainnya, daging yang gak fresh. Itu kerasa banget. Apalagi
kalau yang udah cukup lama di “freezer” (gue gak tau nama tempat khusus
pendingin buat naro bahan makanan terutama daging).
Nah pas disajikan itu kadang masih suka berasa dari freezernya.. Baunya
atau rasanya itu belum hilang. Entah karena gorengnya kurang lama apa
gimana ya kalau kayak gitu.

Atau benar-benar gak bisa dimakan sama sekali. Rasanya gak karu-karuan.
Kalau udah kayak gitu, mau complain gak enak juga.

Memang betul, soal selera balik lagi ke masing-masing orang. Buat gue enak,
buat orang lain belum tentu enak. Begitupun sebaliknya.
Tapi alangkah baiknya kalau masakan yang dimasak itu enaknya universal.
Kualitas sayur dan daging dijaga. Sehingga ketika masak, rasanya tetap
enak.

Gak perlu banyak vetsin untuk membuat suatu makanan jadi enak. Dengan
takaran bumbu-bumbu yang pas dan waktu penggorengan atau perebusan yang pas
juga, pasti rasa makanannya jadi enak.

“Tapi, mbak…. Kadang-kadang beda koki, beda juga hasil makanannya.”
Nah ini gue setuju juga… Jangankan makanan. Bikin kopi aja beda tangan
pasti hasil rasanya beda. Bahkan ngejus buah sekalipun. 🙂
Tapi yah.. sebeda-bedanya, paling enggak, masih bisa dimakan. Gak sampai
gak enak banget, kan? 🙂

Soalnya sebagai pembeli kan uangnya sayang. Ya kalau harga makanannya di
bawah Rp20.000, masih cuma agak kecewa aja ya kalau sampai makanannya gak enak
banget.
Tapi bayangkan kalau harga makanannya Rp30.000 ke atas. Atau kayak di cafe
yang rata-rata Rp50.000 (belum termasuk pajak). Udah mahal gak enak pula.
Kan nyesek, sedih. 😥

Yah.. zaman sekarang, gak sedikit cafe-cafe yang baru buka, tapi rasa
makanannya kurang/gak enak. Mungkin tiap kali gue coba, gue salah pilih menu kali
ya.. :’) Entahlah.. tapi moga-moga ke depannya sih tiap-tiap tempat makan baik
yang lama atau baru, cafe atau bukan, lebih memperhatikan rasa makanannya
juga (dan juga kualitasnya).

Yang kedua, gue akan bahas dari segi servis.
Cukup banyak tempat makan di mana pegawai-pegawainya begitu melihat
penampilan pengunjung (terutama restaurant mahal). Sehingga kalau
tampilannya kucel atau gak keliatan seperti orang tajir menurut mereka,
jangan harap deh bakal dilayani dengan baik.

Gue pernah ngetes 2x pergi ke tempat makan yang cukup bagus. 1x pergi
dengan tampilan biasa saja cenderung kucel, 1x lagi dengan tampilan yang
beda dari biasanya dan agak dimake over. Hasilnya, cara melayaninya beda
180 derajat.

Pas kucel, diayani biasa-biasa saja. Pas full make over,
dilayani dengan ramah sekali. Asli, bikin sedih deh.

Dear para pegawai yang baik, bersikaplah sama pada semua yang datang.
Jangan karena penampilannya yang biasa-biasa aja, gak pake gaun atau jas,
gak pake tas bermerek, lalu lantas gak dilayani atau dilayani tapi kesannya
ogah-ogahan bahkan pas dipanggil-panggil, udah ngeliat tapi pura-pura gak
tau. Itu mengecewakan 😦

Eh, tapi dari sini ada segi positifnya sih. Berarti kemana-mana harus selalu tampil kece badai maksimal 😀

Selain itu, kalau ada permintaan dari pembeli, plleeassee…tolong dicatat dan disampaikan ke kokinya ya..

Misalnya request makanan yang
gak pedas, tolong dicatat. Jangan pas udah makanannya datang, tau-tau pedes.
Dan kalau protes, bilangnya cuma,”menurut saya gak pedes ini, Mbak.”

Yahhh, mas.. itu kan menurut mas..
Masih mending kalau udah gitu bisa diganti yang baru. Kadang-kadang gak mau diganti. Kan sayang… Sama halnya dengan makanan keasinan yang kadang suka kejadian juga.

Dan yang terakhir adalah kondisi sendok/garpu yang diberikan. Kadang-kadang masih berminyak atau yang bikin suka bete dadakan adalah ada bekas makanan yang menempel di sendok/garpunya.

Tapi ya.. balik lagi, namanya juga manusia. Gak ada yang sempurna. Bisa jadi lagi bad mood, terus kepengaruh betenya ke pembeli. Atau kepengaruh ke kinerjanya. Tapi yah sebisa mungkin, servis yang baik dan ramah. Pembeli pasti senang.

Yah.. sekian curhatnya.. Panjang yah ternyata. Buat yang udah baca sampai selesai, makasih lho. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s