Geostorm Movie Review

Beberapa waktu lalu gue barengan ama temen-temen nonton Geostorm karena banyaknya review yang bilang film ini bagus.

Geostorm Movie Poster

Awalnya gue udah pasang ekspektasi tinggi buat film ini. Gue kirain bencana alamnya asli karena bencana alam. Gak taunya [spoiler warning] karena satelit yang dimasukkin virus sehingga menjadikan negara-negara terkena bencana alam dadakan yang dinamakan Geostorm.
Jadi serunya kurang berasa. Apalagi sekalipun efeknya canggih, tapi gak terlalu keliatan mencakup seluruh bagian atau sudut kota dari dekat. Jadinya kurang berasa feelnya (walaupun kenanya parah banget).

Yang aku kangenin di sini cuma akting Gerard Buttler dan Mr. Cheng (gak tau nama asli pemainnya siapa). Aktingnya bener-bener poll abis.

Tapi buat yang pengen nonton ini, gak apa-apa kok. Soalnya cukup menghibur.

Trailer Geostorm

Advertisements

Pentingkah Mengejar Passion dalam Bekerja?

Akhir-akhir ini gue sering banget denger kata passion. Katanya passion dan hobby adalah 2 hal yang berbeda. Hobby cuma kesenangan sesaat dan dapat berubah sewaktu-waktu, sedangkan passion adalah sesuatu yang disuka, dikejar, dan dijadikan career.
Namun kemarin ini, gue baru denger kalau yang namanya passion bisa berubah karena passion sebenarnya adalah perasaan.
Jadi kalau seandainya mau pindah pekerjaan hanya karena yang dikerjakan sekarang bukan passion, berarti kita harus benar-benar melihat apakah passion itu memang bisa mengarahkan ke kehidupan yang lebih baik?
Karena sekalipun passion kita di bidang tertentu, tapi kalau kita tidak bagus bekerja di bidang tersebut, yah sebaiknya janganlah pindah pekerjaan yang mungkin sekalipun bukan passion kita tapi kita bagus di dalamnya.

Apakah benar passion bisa berubah-rubah? Menurut gue, iya, bisa berubah.
Gue pernah punya passion di bidang computer. Senang membuat website dan melakukan apapun yang berhubungan dengan computer. Tapi seiring berjalannya waktu, ternyata bukan ini yang terbaik. Gue gak bisa bikin program dan itu bikin stress.
Selanjutnya, gue merasa passion gue di bidang kuliner. Tahun 2014 gue mulai merintis account food di Instagram dan blog. Gue sampai berpikir ini akan dijadikan karir dan yes, sempat juga ada keuntungan fee yang didapatkan dari passion yang satu ini.
Tapi sejak tahun 2017, gue mulai merasa jenuh. Ada satu dan lain hal yang membuat gue ngerasa gak cocok di bidang ini.
Akhirnya gue memutuskan break dulu. Yang pasti passion gue udah bukan di bidang foto-foto makanan lagi dan nyari-nyari cafe baru buat direview. Ataupun passion gue sudah gak sebesar awal-awal dulu.

Jadi pentingkah mengejar passion dalam bekerja?
Kalau menurut gue sih enggak. Yang penting menyukai pekerjaan tersebut dan kita dapat mengerjakan sesuatu yang baik di dalamnya, gak perlu passion. Passion hanya jadi nilai plus dalam bekerja.

Terus… nulis apa lagi ya? Mendadak mentok soal passion ini…
Ahhh… apakah passion gue dalam writing blog hilang juga? Well, I don’t think so. Hanya karena ide mentok sesaat, bukan berarti ga ada passion atau passionnya hilang. 🙂

Daripada passion-passionan, mending kita serius bekerja aja yukk dan melakukan hal lainnya yang disuka.

Aplikasi Night Mode untuk Mengurangi Brightness Layar HP

Sekitar awal bulan September 2016 ini, gue ngepost blog ini yang salah satunya menceritakan betenya gue, dimana setelah upgrade software HP, layar HPnya malah jadi terang banget dan terlihat semakin kontras. Alhasil, main HP lamaan dikit bikin mata cepat lelah dan sakit.

Source : Google

Source : Google Play Store

Untungnya ada aplikasi Night Screen. Aplikasi untuk membuat layar HP jadi lebih gelap ada banyak.
Tapi kebanyakan bikin layarnya jadi agak kemerahan. Kalau gak salah sih supaya blue screen gak merusak mata… gak terlalu ngerti juga gue :’)

Untungnya gue nemu aplikasi Night Screen ini. Aplikasi ini cuma bikin layar lebih gelap, tapi gak ngubah warna di layar HPnya. Walaupun ada adsnya, tapi gak ngeganggu karena bisa diclose.

Kalau udah malam, aplikasi model ini cocok banget dipakai. Mata jadi tidak terlalu lelah dan cape 🙂

Ketika Telinga Berdenging Tak Kunjung Hilang

Pernah gak sih ngalamin telinga berdenging. Telinga berdenging ini bisa datang tiba-tiba. Tau-tau “ngggggiiinnngg” aja. Ngeganggu juga ya.

Penyebabnya bisa karena ada kotoran kuping yang mengendap atau karena terpapar volume keras. Mungkin ngedengerin musik lewat earphone/headphone tapi volumenya kekencengan, dengerin musik lewat speaker mobil yang volumenya kenceng banget, atau abis nonton konser dan posisinya berada dekat audio speaker, alhasil terpapar suara yang kenceng banget.

Salah satu penyebab di atas bisa bikin telinga berdenging. Kadang sejam-dua jam atau dibawa tidur bisa hilang. Tapi bisa jadi gak hilang-hilang. Nah, yang gak hilang-hilang ini yang bikin bete banget. Karena bisa bikin sakit kepala dan gak konsen.

Solusinya bisa ke dokter THT atau bisa juga dengan meminum Lapibal 500. Kalau ke apotik bisa beli setengahnya atau langsung 10 kapsul. Harga 10 kapsul Rp25.000. Diminumnya 2x sehari setelah makan.

Oke juga hasilnya.

Mengobati Luka Jatuh

Beberapa waktu lalu, gue sempet jatoh kesandung dari trotoar pas malam hari gara-gara gak liat ada besi yang ngelilingin pipa nongol di trotar. Jalanan di situ memang gelap dan waktu itu perhatian tertutuju sama kendaraan umum yang gue stop.

Alhasil, gue kesandung. Dan karena lagi bawa barang banyak, gue jadi susah nyeimbangin diri. Jatuhlah dengan sukses ke jalan dengan badan tertelungkup. Saking kencengnya dan gak bisa ditahan, bahkan mulut gue pun sampai mencium jalan. Untungnya pakai masker dan yang paling mendarat terakhir. Jadi cuma kejedug doang, merah-merah gak sampai lecet.

Tapi tidak dengan tangan dan kaki gue. Karena di jalan itu ada tanah lapang gak kepakai, jadinya mungkin gak ada yang nyapu. Nah, banyak debu dan pasir-pasir yang kasar. Alhasil telapak tangan dan lutut gue luka cukup parah. Bahkan sampai pasir-pasirnya masuk juga. Belum ditambah biru-biru karena memar terbentur.

Panik yah… Gue pulang dengan susah payah. 😥

Sampai rumah, gue berusaha buat ngilangin pasir-pasirnya, tapi susah banget karena nempel. Akhirnya gue cuma cuci pakai air dulu dan kemudian digesek-gesek pakai Dettol Antiseptic Liquid. Ternyata masih gak ilang juga.. Udah gue cuci pakai sabun mandi pun tetep gak hilang. Pasrah deh. (Belakangan gue baru tau, harusnya dicuci pakai air hangat dan dibasuh pelan-pelan. Itupun bukan digesek sekenceng-kencengnya).

Abis dicuci, yang menurut gue sudah agak bersih, gue pakein Betadine. Perihnya dddduuuhh… bikin pengen nangis, beneran 😥

Sampai besok, gak berasa ada perubahan karena sakitnya luar biasa. Akhirnya gue tanya ke temen gue. Syukurlah dia tau solusinya. Dia menyarankan gue beli Bioplacenton dan Sofratule.

Bioplacenton ini sejenis salep gel. Fungsinya mengobati luka terbuka. (Gue sempat baca di Google supaya gak di-Betadine-in dulu. Cukup di hari pertama saja). Nah, Bioplacenton ini bener-bener ngedinginin. Jadi gak gitu sakit banget pas diolesin ke luka. Terus kalau lukanya masih basah, fungsinya membalikkan kulit ke keadaan seperti sebelum luka. Nanti pasir-pasirnya hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Harganya sekitar Rp19.000.

Terus Sofratule ini seperti kain kasa, tapi kain kasa yang ada gelnya. Jadi ada obatnya juga. Fungsinya menutupi luka juga. Satu bungkus Sofratule harganya Rp25.000.

Nah, kalau bepergian kan susah ya, itu Sofratule bisa copot-copot. Jadinya yang luka diolesin Bioplacenton dulu, terus ditempelin Sofratule secukupnya (digunting aja sesuai ukuran luka), terus ditutup pakai kain kasa dan perekat warna putih (bukan yang warna coklat) biar gak sakit pas dicabut.

Beberapa hari kemudian mungkin akan menemukan kayak kuning-kuning di lukanya. Nah itu kemungkinan besar bukan nanah. Jadi jangan digesek-gesek diilangin. Gue lupa namanya apa, tapi itu semacam jaringan yang membantu penyembuhan. Jadi kalau udah keluar kuning-kuning itu, berarti istilahnya seperti sudah setengah jalan menuju sembuh. Semakin besar lukanya, sering-sering ganti Sofratulenya.

Waktu itu gue susah kalau gonta-ganti terus, apalagi ngolesin Bioplacenton. Selain karena sakit, ya ribet. Akhirnya jadinya ngebekas deh karena kurang nyalepinnya. Kalau udah kering lukanya, susah pakai Bioplacenton gak ngefek. Ada sih salep buat mengurangi bekas luka. Tapi males juga ya pakai-pakai kayak gitu… (Dasar pemalasan X))

Oh iya… kalau lagi luka gitu, katanya justru jangan sering-sering disabunin. Kalaupun kotor kena debu, paling ditepuk-tepuk pelan aja pakai air. Dan saran gue, pakai sabun mandi Dettol lebih baik.

Butuh waktu 2 bulan sampai rada oke. Tapi syukurlah Bioplacenton sama Sofratule itu membantu banget. Terima kasih buat yang sudah menciptakan obat ini 🙂

Tips Menjadi Food Instagrammer

Suka foto-foto makanan atau minuman? Suka foto-foto tempat makanan baru yang ngehheeiitttzzzz? Suka ngeshare info tempat makan baru ke temen-temen kamu di Instagram? Mungkin jadi food Instagrammer bisa jadi hobi baru kamu.

Di postingan kali ini gue mau bagi-bagi tips buat food Instagrammer yang baru merintis karir. Ini menurut gue pribadi yah..

Later on reviewing food will be like a basic daily activity

Semoga (masih) bermanfaat.
1.Bikin ciri khas profil tersendiri.
Kalau buat gue pribadi, nama account yang eye catchy memang lebih mudah diingat. Tapi pada kenyataannya, banyak food blogger/ Instagrammer yang nama accountnya biasa saja tapi tetap sukses melejit. 🙂

Ciri khas disini lebih ke foto-foto yang dipasang. Akan lebih menarik bila ada temanya.
Entah mau pasang foto yang terang semua.. Atau mau pasang foto yang gelap-gelap backgroundnya. Atau mau pasang foto yang isinya di-styling semua dengan sempurna. Atau mau pakai filter warna tertentu. Bebas. Yang penting sih, sebisa mungkin keliatan tema atau ciri khasnya. Jadi kalau follower liat, udah langsung tau, ini fotonya siapa ya?

2. Foto makanan sebaiknya siang-siang.
Seperti kata Ko Jiewa, food blogger yang terkenal itu,”Shoot your lunch, eat your dinner.”

Gak peduli mau foto pakai gadget apapun, foto dengan cahaya matahari asli menghasilkan foto yang terbaik.

Jam paling bagus buat foto-foto menurut gue mulai jam 9 pagi – 1 siang.

3. Lebih baik foto pakai kamera.
Memang foto pakai HP kalau siang-siang tetap bagus hasilnya, tapi bila dilihat di layar yang lebih besar seperti monitor komputer, kadang tetap pecah, sekalipun foto pakai HP dengan kamera 13 MP.

Besarnya MP gak mempengaruhi kualitas foto. Gue udah sempet ngebahas ini di postingan sebelumnya.

Jadi kalau bisa, untuk hasil yang bagus, fotonya pakai kamera. Karena bukaan lensanya tetap lebih besar, sehingga detail foto lebih terlihat.

Kalau kamera digital, gak dapat dipungkiri, kamera harga Rp3.000.000 hasilnya lebih baik daripada yang harganya Rp1.000.000.

Kalau kamera mirrorless, banyak yang menyarankan Fujifilm atau Canon.

Untuk kamera DSLR, bisa milih Canon karena warnanya mendekati warna aslinya.

Kalau Sony, gue taunya A6000 aja yang hasilnya bagus buangeett.

4. Follow semua food blogger yang kamu tau di kotamu
Fungsinya bukan buat bikin notifikasi ke mereka kalau “ini looooo… ada food Instagrammer baru..”
Bukan.. tapi lebih untuk berinteraksi dengan mereka, memulai koneksi, dann.. ada satu lagi di point di bawah ini.

5. Rajin-rajin comment foto makanan atau minuman orang lain
Salah satunya termasuk food Instagrammer yang sudah kamu follow.

Gue bilang sih ini gak bermaksud caper atau SKSD. Tapi salah satu cara untuk kamu sebagai food Instagrammer baru dikenal orang.
Karena pemakaian hashtag sekarang sudah kurang ampuh karena Instagram algorythm ini salah satu penyebabnya.

Tapi ya jangan ngespam juga ya, semua foto dikomentarin 🙂

6. Walaupun kurang ampuh, tapi tetap pakai hashtag yang sesuai. Terus tag juga profilnya.
Jujur.. pemakaian hashtag sekarang udah jauh dari ampuh.. karena udah gak muncul di Explore page lagi. Semua dipengaruhi jumlah likes. Bahkan top photos pun dipengaruhi jumlah likes.

Tapi gue sarankan tetap pakai hashtag. Siapa tau ada yang iseng nyari hashtag atau liat foto di Tag pemilik account.

7. Rajin-rajin bikin Instagram Stories.
Sebisa mungkin tiap hari maksimal bikin 2 Instagram Stories, entah itu foto atau video. Karena Instagram Stories gak liat likes. Mereka tetap muncul sesuai timeline. Bedanya.. semakin banyak yang view, semakin besar kemungkinan muncul di Explore Page.

Tapi jangan kebanyakan bikinnya ya sampai timeline Instagram Storiesnya deretan ————– semua. Kasian yang liatnya kalau gak pakai wifi, bisa abis kuota.

8. Boleh juga ngeliput langsung dengan Live Instagram.
Dengan alasan yang sama seperti poin di atas, boleh juga live Instagram.

9. Bikin review yang bagus.
Jujur boleh.. kalau gak enak bilang gak enak. Tapi pakai bahasanya yang halus ya.. Cuma sejauh ini sih.. yang berani komentar seperti ini hanya segelintir food Instagrammer.

Sebagai food Instagrammer, pastinya menghargai restoran/endorse-an. Berusaha menulis sebaik mungkin. Kalau emang gak enak, mending gak usah dipost sekalian.

Karena pengaruhnya besar. Gue pernah diceritain bagaimana sebuah tempat makan bisa tiba-tiba berkurang drastis yang datang cuma gara-gara direview ada masalah di makanannya.

10. Bikin logo dan kartu nama.
Walaupun gak semua food Instagrammer punya logo, tapi logo itu buat gue sih penting, sebagai pengingat dan ciri khas. Bebas mau logonya bikin sendiri atau minta tolong orang lain yang bikin. Mungkin mau pakai warna-warna tertentu biar ada maknanya 🙂

Dan kalau bisa, bikin kartu nama juga. Ini berfungsi kalau lagi diundang terus ketemu ownernya. Kartu nama ini berfungsi sebagai pengingat juga dan kesannya lebih official.
Atau bisa juga kalau gak diundang, tapi datang ke restoran, terus siapa tau mau memperkenalkan diri, akan lebih baik bila sambil memberikan kartu nama. Terkesan lebih formal dan enggak main-main.

11. Tambahkan watermark di fotomu.
Ini penting. Karena selalu aja ada yang rese dengan mengambil foto kamu, terutama kalau bagus. Bebas watermarknya mau logo kamu, atau tulisan nama account Instagramnya, atau inisial nama aja. Bebas.

12. Rajin-rajin pasang foto di Instagram.
Walaupun sekarang foto-foto yang sering dilike follower yang muncul ke permukaan, tapi jangan menyerah. Tetap saja, ketika ngepos foto lebih sering, kemungkinan untuk muncul di timeline follower yang gak pernah ngelike itu lebih ada, daripada yang jarang ngepos.

Dan ngepos foto ini ada jam-jamnya. Gue gak tau udah ada perubahan atau belum. Tapi ngepos foto itu paling baik hari biasa antara jam 2 siang – 5 sore.
Hari Sabtu pagi masih oke. Hari Minggu agak kurang efektif.

Selain itu, foto makanan yang dipos juga diperhatikan jam-jamnya.
Mau ngepos foto bubur ayam endeus bingits mendingan di pagi hari. Foto dessert di siang atau sore hari. Foto martabak atau Indomie menjelang tengah malam 😀

13. Foto jangan sampai sama dengan food Instagrammer lain.
Kalau dulu awal-awal food Instagrammer baru muncul dan rame-rame datang ke sebuah gathering terus disajiin makanan dan foto-foto ternyata kebetulan ada foto yang anglenya mirip/sama gak apa-apa. Kalau ada yang nanya, tinggal bilang,”Kebetulan sama blogger A,B,C, diundang barengan. Jadi fotonya sama.”

Kalau sekarang, gak bisa begitu. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dikirain fotonya sama terus nyomot foto orang lain, mendingan dibedain deh.
Kalau misalnya lagi diundang ke gathering ramean, ambil foto dari angle yang berbeda sebanyak mungkin. Atau kalau boleh, ambil makanannya dan foto di sudut yang berbeda.
Terus sebelum pos, pastiin foto kamu belum ada yang ngepos dengan angle yang sama.

14. Mengajukan proposal bila tertarik untuk diundang.
“Aduh.. kesannya kok gak enak banget ya.. Minta gratisan gitu…”
Tapi ternyata hal ini tergolong wajar. Asalkan proposalnya yang formal yah, layaknya kalau mau mengajukan proposal event untuk mengajukan sponsor. Perkenalkan diri kamu siapa, profil Instagram kamu, apa yang bisa kamu berikan untuk penjual/ owner kalau mereka mengundang kamu.

15. Bertanggung jawab bila sudah diendorse/ diundang ke restoran.
Buat gue pribadi kalau diundang atau diendorse itu tanggung jawabnya besar. Bukan karena hasil fotonya harus lebih baik, tapi owner/ penjualnya kadang suka menentukan aturan sendiri. Misalnya harus ngepos hari apa, jam berapa, captionnya seperti apa. Jadinya buat gue tanggung jawab itu lebih besar ketimbang ngereview datang sendiri tanpa undangan.
Gak heran karenanya, ada beberapa food Instagrammer yang gak menerima undangan dari siapapun.

16. Bikin blog.
Bebas mau di WordPress atau Blogspot. Lebih bagus lagi juga kalau domainnya beli. Terlihat lebih formal dan resmi. Alasan bikin blog karena di Instagram gak bisa mencakup semua kata-kata. Terbatas. Foto-fotopun gak mungkin dipajang semua, walaupun bisa di-collage.

Banyak bener ya tipsnya.. Abis liat ini, yang tertarik jadi food Instagrammer, cepetan bikin accountnya ya 😉 Happy reviewing.

Enak – Gak Enaknya Jadi Food Instagrammer

Di postingan kali ini mau ngebahas tentang menjadi food Instagrammer ah… Food Instagrammer berbeda dengan food blogger karena ngereview makanannya di Instagram aja (walau ada juga yang ditambah ke blog). Jadi food Instagrammer itu gak selalu cupcake and rainbow… unless you are really really lucky.. then maybe yes.. 😀

Hmm.. mulai dari mana dulu ya? Baiklah.. kalau ngetiknya ngaclok-ngaclok, harap maklum ya. Namanya juga lagi cerita suka-suka. 🙂 Mari kita mulai ceritanya.

Beberapa tahun yang lalu, yang namanya food Instagrammer itu masih jarang di Indonesia, atau lebih tepatnya lagi.. di Bandung. Bisa dihitung dengan jari siapa saja food Instagrammer tersebut dan foto-foto makanannya juga masih variatif, karena masih keliling-keliling sendiri buat review makanan. Yang namanya diundang buat review itu masih jarang sekali terdengar. (malah awalnya gue gak tau :D)

Karena gue sendiri suka foto-foto makanan dan berbagi infonya, maka guepun mengikuti jejak mereka. Gue bikin Instagram khusus untuk review-review makanan. Review berjalan.. sampai suatu waktu gue ketemu temennya temen gue yang punya temen seorang food Instagrammer kondang di Bandung. Dari situ gue baru tau kalau yang namanya food Instagrammer itu bisa diundang dan dibayar buat foto.. Dari situ gue baru tau yang namanya food Instagrammer itu bisa dibayar.

Gak lama kemudian mulai pada bikin blog, entah itu di WordPress atau Blogspot. Jadi untuk review makanan yang dibayar bisa dipasang di blog, atau bisa juga keduanya (Instagram dan blog). Kabar ini berhembus dengan cukup cepat hingga sekarang food Instagrammer sudah menjamur.

When it comes to passion, reviewing food can be a happy thing

Teruss.. enaknya itu ajakah? Enggak.. Ini gue ceritain enaknya atau untungnya jadi food Instagrammer dulu ya.
1. Kalau passion kamu bener-bener di makanan dan suka mereview, jadi food Instagrammer itu menyenangkan.. karena kamu melakukan suatu hal yang kamu suka. Kamu datang ke tempat baru, jeprat-jepret makanan, review, dan membagikannya ke orang lain.

2. Diundang review gratis.
Iya, gratis. Siapa yang gak suka sih dikasih makan gratis?
Udah gratis, makanannya bisa lebih dari satu macam. Bahkan dikasih minuman juga dan bukan air putih atau teh tawar 🙂

Uang buat beli makanan/ minuman jadi bisa ditabung kan..

3. Bisa mencoba makanan baru yang gak kepikiran buat beli, kalau pas diundang.
Serunya kalau lagi diundang itu, bisa nyobain makanan yang aneh ataupun yang harganya mahal banget tapi jadi bisa nyoba 😀

Contohnya : seumur-umur mungkin gak pernah nyobain Escargot. Atau makan seafood yang harganya bisa setengah harga HP low end. Atau makan makanan hotel yang harganya bisa buat beli baju baru. Atau nyobain makanan unik lainnya.. mungkin belalang goreng? 🙂 Dengan menjadi food Instagrammer, kesempatan ini terbuka lebar.

Atau kalau diendorse makanan tertentu, bisa nyoba tanpa harus beli dulu 🙂

4. Dibayar (walau gak selalu).
Yup, salah satunya yang enak jadi food Instagrammer itu kalau penjualnya bersedia membayar. Kebayang dong.. udah dikasih makan gratis, dibayar pula. Asyik kan ya? 🙂

Gak selalu ada yang mau bayar.. tergantung.. ada beberapa faktor. Nanti dilanjutkan lagi di bawah.

5. Jadi terkenal.
Gak bisa dipungkiri, jadi food Instagrammer itu kalau sukses, bisa jadi terkenal. Dan enaknya kalau udah terkenal, banyak undangan dan endorse-an. Terus balik lagi, kalau udah dapat banyak kesempatan seperti itu, terus dibayar, kan asyik ya… 🙂

6. Banyak teman/ koneksi baru
Dengan menjadi food Instagrammer, bisa kenalan sama food Instagrammer lainnya. Bisa jadi teman baru/ koneksi baru. Pergaulan makin luas.

7. Skill bertambah
Gak cuma skill moto-moto aja yang bertambah karena rajin motoin makanan dan minuman, tapi juga communication skill. Kenapa? Karena kalau diundang misalnya, harus pinter-pinter ngomong sama ownernya, banyak-banyak cerita. Udah gitu jadi tau banyak tentang info makanan juga. Siapa tau bisa dipake buat entar masak di rumah 🙂

Yak.. sejauh ini baru yang enak-enaknya.. Mari ngambil cemilan dulu.. Seduh teh dulu.. Karena postingan blog ini masih panjang 😀

Each food Instagrammer has their own characteristics

Nah, kalau tadi udah ngomongin yang enak-enaknya, sekarang ngomongin yang gak enaknya.
Waktu dulu awal-awal food Instagrammer baru muncul, we really did it for fun. Datang rame-rame, foto-foto bareng, ngobrol bareng, makan bareng.

Tapi sayangnya, sekarang-sekarang gak se-fun dulu lagi. Kadang ada persaingan kecil muncul. Tentunya bukan persaingan yang menjatuhkan bagaimana ya… Atau paling tidak, itu yang sejauh gue tau.

Persaingannya kalau yang gue tangkap sederhana aja sih, kayak,”Wah.. dia baru review restoran A. Diundang apa beli sendiri ya?”
“Wah.. si B baru ngepos foto, gak sampai 1 menit likesnya langsung 1.000.” Atau “Wah… si B followernya naik 1.000 orang dari kemarin. Bisa cepet gitu.. Gimana caranya ya?” Pembicaraan seperti ini udah biasa terjadi kalau ada food gathering.

Buat sebagian orang, melihat hal itu mungkin hal yang biasa aja atau wajar. Tapi gue pribadi udah ngeliatnya sebagai persaingan kecil. Karena kalau enggak, buat apa repot-repot merhatiin beberapa kali jumlah likes nambah berapa, follower nambah berapa. We do it for fun, remember? 😉

Namun hal itu terlintas di kepala gue juga secara otomatis karena ngaruh ke hal lainnya.
Waktu pertama kali food Instagrammer muncul, penjual/ owner-owner restoran gak terlalu ngeliat jumlah follower atau likes ada berapa banyak.

Waktu awal-awal, umumnya cuma ada dua tipe :

1. Yang ngeliat hasil fotonya bagus.
2. Yang ngeliat captionnya oke means cara ngereviewnya bagus.

Jadi kalau diundang, yang dilihat antara kedua itu. Mengenai bayaran pun dilihatnya dari itu. Misalnya, owner mau membayar karena melihat fotonya bagus sehingga pasti menarik perhatian orang dan datang ke tempatnya.

Tapi, sekarang sudah berubah. Yang dilihat sekarang (setau gue) urutannya adalah :
1. jumlah follower dan likes.
2. banyak atau gak yang comment.
3. hasil foto.
4. bagaimana sang blogger/ Instagrammer bisa menulis review yang bagus. Caption sudah gak terlalu penting lagi. Dalam hal ini maksudnya… gak perlu nulis caption panjang lebar, masih bisa menarik perhatian orang-orang dengan foto yang bagus.

Jadi gak heran kalau sekarang banyak yang beli followers atau likes. Karena itulah yang mayoritas diliat para penjual atau owner. Pendapatnya, kalau follower banyak, pastilah yang ngeliat juga lebih banyak ketimbang yang followernya dikit. Apalagi kalau likesnya banyak juga… dan comment-commentnya. Jangankan mereka. Gue juga kalau mau pasang iklan di Instagram juga berpikiran hal yang sama kok 😀

Abis itu baru diliat dari kualitas foto. Gak heran, waktu awal-awal food Instagrammer baru muncul, masih banyak yang pake HP, baik itu HP Android ataupun iPhone. Dan para owner/penjual pun gak keberatan. Kalau sekarang sih udah berlomba-lomba pakai kamera. Kebanyakan kamera mirrorless atau DSLR. Gak dapat dipungkiri.. Hasil foto dari kamera memang beda, jauh lebih bagus ketimbang HP biasa (kecuali iPhone). Untuk hasil foto ini kepingin gue bahas juga di postingan blog selanjutnya 😀

Gak heran jadinya kalau menurut pandangan gue pribadi, owner/penjual sekarang lebih terlihat senang/ menghargai yang motonya pake kamera daripada HP. Mungkin ini cuma perasaan gue aja, tapi gak tau deh.. X))

Udah gitu… gak enaknya lagi, Instagram sekarang pake algorythm feed pula. Apa itu algorythm feed? Jadi Instagram menampilkan foto-foto yang dianggap disukai oleh penggunanya. Kalau penggunanya ngefollow sebuah account tapi misalnya gak pernah like foto-fotonya, gak peduli seberapa sering account tersebut ngepost foto-foto, maka foto-foto itu gak akan muncul di timeline followernya. (kalaupun sampai muncul, itu jarang banget.. atau bisa jadi karena kebetulan yang ngelike banyak).

Buat para food Instagrammer yang gak terkenal (banget), algorythm feed ini bisa bikin ketar-ketir. Jumlah likes berkurang drastis, kenaikan follower juga gak bertambah banyak. Kalau udah gini…dikhawatirkan keberadaan food Instagrammer itu kurang diketahui lagi. Buat naikin follower atau likes susah bener kayaknya.

Dari sini pula, mungkin jadi alasan beberapa food Instagrammer beli follower/likes. Tapi mungkin likes lebih banyak dipilih, karena semakin bertambah banyak likes, semakin besar kemungkinan muncul di timeline follower, maupun di explore page. Semakin sering muncul, semakin ada kemungkinan enggagement dengan follower yang berarti kemungkinan lagi untuk mengundang follower baru melihat profil food Instagrammer tersebut.

Yah.. begitulah enak-gak enaknya jadi food Instagrammer. 70-30 kalau gue bilang. 70% enak, 30% gak enak. Tapi karena banyak enaknya, sebagai kesimpulan, jadi food Instagrammer itu enak 🙂